Bakso Interview: Pengalamanku Dengan Teman-temanku
ARTIKEL SANTRI, Hari Rabu tanggal 02 Maret 2022 kami bersama Tim Progam Riset Biografi KH. Abdul Wahhab Husain berhasil melakukan wawancara dengan H. Rukadi. Beliau merupakan santri KH. Abdul Wahhab Husain. Tepat pukul 16.53 WIB kami tiba dirumah H. Rukadi yang berdomisili di Dukuh Sulang RW.04 RT.03. Sore itu kami berlima, Mohammad Munfaizin, Muji Wijaya, Syarifah, Zumrotus Saadah, dan Awaludin Syarif Hasbullah segera memasuki rumah H. Rukadi. Adapun dua teman kami absen. Menurut Syarifah, Jazilatul Amna dan Akhida izin karena setoran hafalan Program Hafidz.
Kami berlima disambut dengan gembira. Ternyata kedatangan telah dinanti karena sebelumnya Ketua Koordinator kami Muji Wijaya telah menghubungi H. Rukadi bahwa kami akan melakukan wawancara seputar cerita tentang kehidupan KH. Abdul Wahhab Husain.
Kami dipersilahkan duduk dideretan bangku ruangan tamu besar yang terkesan sejuk,megah dan nyaman. Dan pada saat yang sama, H.Rukadi malah riwa-riwi terkesan bingung, dan sekilas tampak dari sudut ruang tengah, Ia berbisik dengan istrinya dengan suara lirih. Kamipun saling berpandang mata. Dalam pikiran kecil kami terlintas bahwa bisikan lirih itu membahas tentang hidangan untuk kami berlima.
Ternyata dugaan kami salah. Wawancarapun telah berlangsung lima menit, ternyata hidangan itu tak kunjung keluar. Dengan keadaan seperti itu, kami terpaksa fokus wawancara Biografi KH. Wahhab. Pertanyaan demi pertanyaan keluar dari mulut kami. Respon H.Rukadi sungguh luar biasa. Beliau menceritakan dengan detail tentang keistimewaan dalam mengenang KH.Wahhab Husain. Sesekali H. Rukadi ekspresif menirukan gestur KH. Wahhab yang masih terngiang dalam ingatannya.
H.Rukadi menuturkan bahwa KH.Wahhab merupakan Kyai yang memiliki pendirian kuat. “ Abang yo abang, ijo yo ijo,” ungkap tegas H.Rukadi saat bercerita siapa itu KH. Wahhab Husain. Kisah demi kisah Ia ceritakan. Bahkan cerita itu menceritakan kedekatan dirinya dengan KH.Wahhab. ”Pak Yai iku ora seneng santrine diremehkan, opo maneh santrine seng elek (sambil menunjukan dirinya) mesti diwenehi ijazah,” tutur H. Rukadi sambil menggeleng bangga.
Setelah itu, H. Rukadi melanjutkan ceritanya tentang wasiat dari KH. Wahhab Husain. ”Ojo nganti ninggalno mulang madrasah, mergo mulang kuwi iso nglancarno rejeki,” tegas cerita H. Rukadi. Kamipun mengangguk-ngangguk (!) atas cerita menarik dari H. Rukadi.
Saat Kami sedang asik mendengarkan cerita H.Rukadi, tercium bau kaldu dari sudut ruang tengah. Tak lama kemudian, istri bermasker cantik tadi (istri H.Rukadi) datang dari arah belakang kami, “monggo didahar riyen,” suara lirih istri H. Rukadi. Terlihat enam mangkok bakso terhidang rapi diatas nampan plastik warna hijau kusam. Kami pun merasa senang atas apa yang dibawa oleh istri H.Rukadi tersebut. “Inggih buk,” jawab teman kami, Muji. Singkat cerita, kami menikmati hidangan tersebut. Tak lama berselang, kami berpamitan dan mengucapkan terimakasih kepada H. Rukadi beserta Istri atas segala hal yang telah disuguhkan.
Sesampai di pondok Nural Firdaus, kami ceritakan pengalaman sore itu kepada dua teman kami. Jazilatul Amna dan Akhida tampak mlongo ketika kami cerita ada satu mangkuk bakso belum termakan. “Aku kok ora mbok jak leh,” dengan wajah melas.
Penulis: Zumrotus Sa’adah dkk
Gabung dalam percakapan